Gallery

Penderita GBS Meningkat di Kalangan Usia Produktif


JAKARTA, KOMPAS.com – Penyakit Guillain Barre Syndrome atau GBS mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga. Beberapa waktu lalu, penyakit ini pernah menjadi sorotan masyarakat luas menyusul kasus yang menimpa dua anak yakni Azka dan Shafa.

GBS dapat dialami semua usia, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Tapi puncaknya, yang banyak kita dapati adalah pada pasien usia produktif

Meskipun kasus penyakit GBS relatif jarang ditemukan, namun dalam beberapa tahun terakhir teranyata jumlah kasusnya terus mengalami peningkatan. Hal itu setidaknya tampak dari data yang dimiliki Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) Jakarta yang merupakan salah satu rumah sakit pusat rujukan nasional.

Menurut  Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Cabang Jakarta dr. Darma Imran, SpS (K), data RSCM pada akhir tahun 2010-2011 tercatat ada 48 kasus GBS dalam satu tahun dengan berbagai variannya. “Dibandingkan tahun sebelumnya memang terjadi peningkatan sekitar 10 persen,” ucapnya saat acara jumpa pers, Jumat, (13/4/2012), di Jakarta.

Darma menjelaskan, GBS merupakan penyakit yang berhubungan dengan autoimun. Gangguan pada sistem imun itu membuat tubuh seseorang menghasilkan suatu antibodi yang merusak sistem saraf dan tak jarang berakhir pada kelumpuhan. Secara epidemiologi, GBS termasuk penyakit sangat jarang.

Angka kejadiannya kurang lebih sekitar antara 0,5 sampai 1,5 setiap 100.000 penduduk dan ini angkanya hampir sama di seluruh negara, baik pada negara maju atau berkembang. Kasus GBS umumnya cenderung lebih banyak terjadi pada pria ketimbang wanita.

“GBS dapat dialami semua usia, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Tapi puncaknya, yang banyak kita dapati adalah pada pasien usia produktif,” katanya.

Menurut Darma, kelainan neurologi (saraf) apapun penyebabnya seringkali memberikan gejala klinis yang hampir sama. Pada awalnya, gejala GBS hanya berupa rasa kesemutan dan sifatnya simetris (kanan dan kiri sama) kemudian kelemahan. Oleh karena itu, agar tidak terjadi kesalahan, maka diagnosa perlu segera ditegakkan.

“Gejala GBS yang lebih spesifik dibandingkan dengan kelumpuhan lain adalah keluhannya biasanya dimulai dari ujung-ujung jari kaki atau tangan, kemudian berlanjut pada kelumpuhan,” serunya.

Untuk mendiagnosis penyakit GBS, selain dengan gejala yang timbul dan analisa cairan otak, juga dapat dilakukan pemeriksaan EMG dan kecepatan hantar saraf dimana akan memberikan informasi pada awal gejala penyakit.

Pemulihan dan perbaikan pasien GBS sangat ditentukan oleh kecepatan dalam memberikan terapi, sehingga perlu menegakkan diagnosis sedini mungkin. Jenis terapi yang direkomendasikan saat ini adalah dengan pemberian Intra Vena Imunoglobulin (IvIG) dan plasmapharesis atau pengambilan antibodi yang merusak dengan jalan penggantian plasma darah.

Lebih lanjut Darma mengungkapkan, GBS menjadi salah satu penyebab kelumpuhan yang utama setelah era panyakit polio. “GBS adalah penyakit akut, tetapi kalau ditangani dengan baik, maka dapat memperbaiki kualitas hidup pasien,” tutupnya.

link : http://health.kompas.com/read/2012/04/14/09265323/Penderita.GBS.Meningkat.di.Kalangan.Usia.Produktif

About these ads

2 Responses to Penderita GBS Meningkat di Kalangan Usia Produktif

  1. Selamat pagi,
    Terima kasih atas infonya. Adik kandung saya perempuan terkena penyakit GBS pertengahan tahun 2011 sehingga perlu dirawat di RS selama seminggu lebih. Apakah penyakit ini bisa berulang kembali? dan apakah ada pantangan makanan bagi penyakit ini? terima kasih atas jawabannya.

    • Selamat sore,

      GBS adalah penyakit langka yang menyebabkan tubuh menjadi lemah kehilangan kepekaan yang biasanya dapat sembuh sempurna dalam hitungan minggu, bulan atau tahun. GBS menjangkiti pada semua tingkatan usia mulai dari anak-anak sampai dewasa, jarang ditemukan pada manula. Lebih sering ditemukan pada kaum pria. Bukan penyakit turunan, tidak dapat menular lewat kelahiran, terinfeksi atau terjangkit dari orang lain yang mengidap GBS. Namun, bisa timbul seminggu atau dua minggu setelah infeksi usus atau tenggorokan.

      Gejala awal antara lain adalah: rasa seperti ditusuk-tusuk jarum diujung jari kaki atau tangan atau mati rasa di bagian tubuh tersebut. Kaki terasa berat dan kaku atau mengeras, lengan terasa lemah dan telapak tangan tidak bisa menggenggam erat atau memutar seusatu dengan baik (buka kunci, buka kaleng dll). Gejala-gejala awal ini bisa hilang dalam tempo waktu beberapa minggu, penderita biasanya tidak merasa perlu perawatan atau susah menjelaskannya pada tim dokter untuk meminta perawatan lebih lanjut karena gejala-gejala akan hilang pada saat diperiksa. Gejala tahap berikutnya disaat mulai muncul kesulitan berarti, misalnya: kaki susah melangkah, lengan menjadi sakit lemah, dan kemudian dokter menemukan syaraf refleks lengan telah hilang fungsi.

      GBS disebabkan oleh pembengkakan syaraf peripheral, sehingga mengakibatkan tidak adanya pesan dari otak untuk melakukan gerakan yang dapat diterima oleh otot yang terserang. Karena banyak syaraf yang terserang termasuk syaraf immune sistem maka sistem kekebalan tubuh pun akan kacau. Dengan tidak diperintahakan dia akan menngeluarkan cairan sistem kekebalan tubuh ditempat-tempat yang tidak diinginkan. Dengan pengobatan maka sistem kekebalan tubuh akan berhenti menyerang syaraf dan bekerja sebagaimana mestinya.

      Diagnosa GBS didapat dari riwayat dan hasil test kesehatan baik secara fisik maupun test laboratorium. Dari riwayat penyakit, obat-obat yang biasa diminum, pecandu alkohol, infeksi-infeksi yang pernah diderita, gigitan kutu maka Dokter akan menyimpulkan apakah pasien masuk dalam daftar pasien GBS. Tidak lupa juga riwayat penyakit yang pernah diderita pasien maupun keluarga pasien misalnya diabetes mellitus, diet yang dilakukan, semuanya akan diteliti dengan seksama hingga dokter bisa membuat vonis apakah anda terkena GBS atau penyakit lainnya.

      Pasien yang diduga mengidap GBS di haruskan melakukan test:darah lengkap, Lumbar Puncture, dan EMG (electromvogram). Sesuai urutannya, test pertama akan dilakukan kemudian test ke dua apabila test pertama tidak terdeteksi adanya GBS, dan selanjutnya.Beberapa hal yang terjadi setelah test dilakukan, yaitu tanda-tanda melemahnya syaraf akan nampak semakin parah dalam waktu 4 sampai 6 minggu. Beberapa pasien melemah dalam waktu relative singkat hingga pada titik lumpuh total dalam hitungan hari, tapi situasi ini amat langka.

      Pasien kemudian memasuki tahap ‘tidak berdaya’ dalam beberapa hari. Pada masa ini biasanya pasien dianjurkan untuk beristirahat total di rumah sakit. Meskipun kondisi dalam keadaan lemah sangat dianjurkan pasien untuk selalu menggerakkan bagian-bagian tubuh yang terserang untuk menghindari kaku otot. Ahli Fisioterapy biasanya akan sangat dibutuhkan untuk melatih pasien dengan terapi-terapi khusus dan akan memberikan pengarahan-pengarahan kepada keluarga dan teman pasien cara-cara melatih pasien GBS.

      Pasien GBS biasanya merasakan sakit yang akut pada saat GBS. Terutama didaerah tulang belakang dan lengan dan kaki. Namun ada juga pasien yang tidak mengeluhkan rasa sakit yang berarti meskipun mereka mengalami kelumpuhan parah. Rasa sakit muncul dari pembengkakan dari syaraf yang terserang, atau dari otot yang sementara kehilangan suplai energy, atau dari posisi duduk atau tidur si Pasien yang mengalami kesulitan untuk bergerak atau memutar tubuhnya ke posisi nyaman. Untuk melawan rasa sakit dokter akan memberikan obat penghilang rasa sakit dan perawat akan memberikan terapi-terapi untuk me-relokasi bagian-bagian tubuh yang terserang dengan terapi-terapi khusus. Rasa sakit dapat datang dan pergi dan itu amat normal bagi penderita GBS.

      Pasien GBS biasanya akan melemah dalam waktu beberapa minggu, maka dari itu perawatan intensive sangat diperlukan di tahap-tahap dimana GBS mulai terdeteksi. Sesuai dengan tahap dan tingkat kelumpuihan pasien maka dokter akan menentukan apa pasien memerlukan perawatan di ruang ICU atau tidak. Sekitar 25% pasien GBS akan mengalami kesulitan di Bernafas, kemampuan menelan, dan susah batuk. Dalam kondisi tersebut diatas, biasanya pasien akan diberikan bantuan alat ventilator untuk membantu pernafasan.

      Pada beberapa saat pasien akan mengalami : kondisi mati rasa akan berangsur membaik. Pasien harus tetap wapada karena hanya 80% pasien yang dapat sembuh total, tergantung parahnya pasien bisa berjalan dalam waktu hitungan minggu atau tahun. Namun statistik membuktikan bahwa rata-rata pasien akan membaik dalam waktu 3 sampai 6 bulan. Pada pasien yang sudah dalam kondisi kritis tersisa kelainan pada bagian terserang paling parah, perlu terapi yang cukup lama untuk mengembalikan fungsi-fungsi otot yang layu akibat GBS.

      Untuk pengobatan penyakit GBS saat ini hanya ada satu macam dengan biaya yang lumayan mahal. Obat ini berbentuk infus dan diberikan kepada pasien dengan jumlah yang dihitung berdasarkan berat badan pasien. Untuk lebih jelasnya Ibu dapat menanyakan hal tersebut kepada dokter secara langsung sehingga lebih jelas.

      Untuk pantangan makanan bagi penderita GBS sampai sejauh ini tidak ada pantangan terhadap makanan tertentu

      Semoga informasi ini sangat bermanfaat.

      Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s