Tag Archives: Difteri

Mitos Seputar Imunisasi


Jakarta, Kabar burung seputar imunisasi banyak berseliweran, tapi rata-rata masyarakat mempercayai begitu saja kabar tersebut tanpa mencari tahu kebenarannya. Apa saja mitos-mitos seputar imunisasi tersebut? Continue reading

Sejarah Vaksinasi


Tahun 429 SM: Thucydides mengamati orang yang sembuh dari cacar tidak terinfeksi cacar lagi

Thucydides, sejarawan Yunani kuno mengamati penduduk Athena sembuh dari cacar dan tidak terinfeksi lagi.

Tahun 900: Cina menemukan variolation

Cina yang pertama menggunakan vaksinasi, disebut variolation. Tujuannya untuk mencegah cacar menyebar.

Tahun 1700-an: Variolation menyebar ke seluruh dunia

Variolation menyebar di Inggris awal abad ke-18. Pada saat itu, cacar adalah penyakit yang berbahaya di Eropa.

Tahun 1796: Edward Jenner Menemukan Vaksinasi

Dokter Inggris, Dr. Edward Jenner menemukan vaksinasi yang lebih modern.

Tahun 1803: Royal Jennerian Instituted Didirikan

Jenner mendapat bantuan dana pemerintah, tahun 1803 mendirikan Royal Jennerian Institute.

Tahun 1870-an: Oposisi terhadap Vaksinasi

Mereka menentang vaksinasi karena tidak percaya vaksin dapat membantu kesehatan manusia.

Tahun 1880-an: Vaksin Rabies

Louis Pasteur mengembangkan vaksinasi untuk penyakit rabies.

Tahun 1890: Emil von Bohring Menemukan Dasar Vaksin untuk Difteria dan Tetansus

Ilmuwan Jerman, Evil von Bohring menerima hadiah Nobel pertama di bidang Fisiologi atau Pengobatan. Shibasaburo Kitasato menemukan antitoksin untuk difteria dan tetanus.

Tahun 1920-an: Vaksin Tersedia Secara Luas

Akhir tahun ke-1920-an, vaksin difteria, tetanus, batuk, dan TBC sudah tersedia.

Tahun 1955: Vaksinasi Polio Dimulai

Vaksinasi polio diperkenalkan di Amerika dan menurunkan beberapa kasus.

Tahun 1956: WHO berjuang menghapus cacar

WHO memutuskan untuk mencoba dan menghapuskan cacar dari dunia dengan vaksin.

Tahun 1980: Cacar Musnah dari Dunia

Cacar secara resmi dideklarasikan musnah pada tahun 1980. Ini merupakan hal yang luar biasa dalam sejarah dunia kesehatan.

Tahun 2008: Ilmuwan Kanker Serviks menerima Hadiah Nobel

Profesor Harald zur Hausen menemukan penyebab kanker serviks adalan virus HPV.

2008: Program Vaksinasi NHS Dimulai

Di Inggris, Program Vaksinasi NHS Kanker Serviks dimulai. Pertama kali, Vaksin diproduksi untuk mencegah kanker.

Imunisasi Buat Siswa SD


MEMPERINGATI Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), seluruh sekolah yang ada di Sanggau, khususnya siswa kelas I Sekolah Dasar (SD) diberikan imunisasi Campak.

Continue reading

19 Juta Anak Belum Terjangkau Imunisasi


KOMPAS.com - Setiap tahunnya, satu dari lima anak  atau sekitar 19 juta anak-anak di seluruh dunia – tidak terjangkau pelayanan imunisasi. Program imunisasi juga masih menjadi masalah di Indonesia. Karena sejak 2006, Indonesia termasuk sebagai salah satu dari enam negara yang  teridentifikasi memiliki jumlah tertinggi anak-anak yang tidak terjangkau imunisasi.

Demikian diungkapkan organisasi medis kemanusiaan dunia Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas dalam sebuah siaran pers menyambut Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23/7/2012.

Menurut MSF, sekitar 70 persen dari anak-anak di Kongo, India, Nigeria, Ethiopia, Indonesia, dan Pakistan belum  terjangkau program imunisasi rutin tersebar. Rencana Aksi Vaksinasi Global senilai 10 milyar dolar AS akan sulit tercapai jika masalah-masalah utama pelaksanaan program imunisasi rutin masih belum terpecahkan.

Walaupun telah dibahas dalam pertemuan Dewan Kesehatan Dunia ke-65 yang dihadiri oleh para menteri kesehatan sedunia di Jenewa, Swiss, pada bulan Mei tahun ini, Rencana Aksi Vaksinasi Global cenderung berfokus pada pengembangan vaksin-vaksin baru untuk proyek vaksinasi selama 10 tahun ke depan dan tidak banyak membahas tentang perbaikan sistem vaksinasi yang ada saat ini.

Rencana Aksi Vaksinasi Global didasari atas asumsi bahwa pelaksanaan program-program imunisasi dasar telah berjalan dengan baik, dan sayangnya hal ini bukanlah kenyataan yang ditemui di berbagai wilayah tempat MSF bekerja.

“Untuk bisa menjangkau anak-anak yang belum terjangkau imunisasi kita perlu memprioritaskan pengembangan vaksin yang lebih murah, lebih mudah digunakan dengan sistem pengelolaan yang lebih efisien, serta lebih gampang dibawa/dikirim ke berbagai lokasi imunisasi,” ungkap Kate Elder, Penasehat Kebijakan Vaksinasi MSF.

Mayoritas vaksin yang tersedia saat ini diberikan dalam bentuk suntikan yang membutuhkan bantuan petugas kesehatan yang telah terlatih, dimana hal ini masih menjadi kendala utama di negara-negara dengan keterbatasan jumlah petugas kesehatan.

Untuk bisa mendapatkan paket vaksinasi lengkap, bayi/anak-anak harus mendatangi ke pusat-pusat imunisasi sebanyak lima kali dalam 12 bulan pertama kehidupan mereka. Hal ini masih menjadi masalah besar bagi anak-anak yang tinggal di wilayah-wilayah negara berkembang yang terisolasi  serta sulit dijangkau, atau mereka yang terkendala masalah biaya transportasi.

Selain itu, vaksin juga harus disimpan dalam temperatur dingin yang merupakan salah satu masalah logistik terbesar untuk menjangkau negara-negara berkembang dengan iklim panas tanpa sistem penyimpanan pendingin dan akes aliran listrik yang memadai.

Menurut Elder, pemerintah negara-negara berkembang perlu mendesak pentingnya pengembangan produk-produk vaksin yang lebih murah, lebih mudah dikelola dan digunakan, dengan sistem penyimpanan yang lebih efisien, serta lebih gampang dibawa/dikirim sehingga upaya pelaksanaan program-program imunisasi rutin bisa lebih mudah menjangkau lebih banyak anak-anak.

Apalagi di  tahun 2015 mendatang, sekitar 14 negara akan kehilangan “jatah” dukungan donor GAVI (Global Alliances for Vaccines and Immunizations) atau Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi. Hal ini, ditambah dengan peluncuran vaksin-vaksin baru yang lebih mahal, berpotensi meningkatkan harga satu paket vaksinasi lengkap di negara-negara berkembang mencapai 38 dolar per anak.

Secara global, 20 persen bayi yang lahir setiap tahunnya tidak mendapatkan imunisasi dasar yang dapat melindungi mereka dari berbagai penyakit mematikan yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Penyakit campak masih tetap menghantui negara-negara Asia.

Setiap tahunnya, MSF memberikan vaksinasi kepada lebih dari 10 juta orang melalui intervensi tanggap darurat terhadap wabah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi seperti campak, meningitis, dan diferi. MSF juga mendukung upaya-upaya imunisasi rutin melalui proyek-proyek pelayanan kesehatan ibu dan anak. (*)

Sumber:http://health.kompas.com/read/2012/07/23/08130248/19.Juta.Anak.Belum.Terjangkau.Imunisasi

Imunisasi Lengkap Cegah Timbulnya Wabah


ImagePemberian imunisasi secara lengkap dan sesuai jadwal bukan hanya bermanfaat untuk menghasilkan kekebalan tubuh terhadap penyakit, tapi juga mencegah penularan penyakit atau wabah.

Beberapa kejadian di Indonesia sudah membuktikan hal tersebut. Sebut saja wabah polio pada tahun 2005-2006 yang menyebabkan 385 anak lumpuh, wabah campak antara tahun 2009-2011 yang menyebabkan 5.818 anak dirawat di rumah sakit dan 16 diantaranya meninggal. Yang terbaru adalah wabah difteri di Jawa Timur tahun 2011 yang menyebabkan 1.789 anak perlu dirawat dan 91 anak meninggal. Continue reading