Apa Beda Vaksin dan Serum?


“Pernahkah anda mendengar tentang vaksin atau serum? Banyak diantara kita yang tidak mengerti apa sebenarnya vaksin atau serum itu.”

Vaksin secara arti berasal dari bahasa latin ’vacca = sapi’. Sedangkan Louis Pasteur mengembangkan teknik attenuation atau melemahkan berbagai kuman penyebab penyakit, seta melemahkan virus rabies untuk mengembangkan ‘bahan kekebalan’ lain, selain cacar. Teknik attenuation yg lebih ilmiah menjadi dasar pengembangan vaksin kelak kemudian hari.

Definisi lengkapnya kurang lebih adalah suatu kuman (bakteri/virus) yang sudah dilemahkan yang kemudian dimasukkan ke dalam tubuh seseorang untuk membentuk kekebalan tubuh (imunitas) secara aktif. Cara memasukkannya bisa dengan disuntik ataupun dengan oral (diteteskan – red). Fungsi utama dari vaksin adalah untuk pencegahan terhadap suatu penyakit yang diakibatkan oleh kuman.

Serum secara definisi adalah suatu cairan tubuh yang mengandung sistem kekebalan terhadap suatu kuman yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, maka orang tersebut akan mempunyai kekebalan terhadap kuman yang sama (imunitas pasif – red). Fungsi utama serum adalah mengobati suatu penyakit yang diakibatkan oleh kuman.

Mana yang dapat kita pilih untuk pembentukan kekebalan tubuh? Tergantung kondisi dan keadaan. Jika kita menginginkan pencegahan terhadap suatu penyakit, maka kita boleh memilih vaksin. Namun apabila kita telah terkena oleh suatu penyakit, maka kita pilih serum.

Akan tetapi apabila kita hanya menggunakan serum, maka sifatnya hanya mengobati dan tidak meninggalkan imunitas terhadap penyakit yang diobatinya. Jadi, kemungkinan besar kita akan bisa terkena penyakit yang sama berulang kali. Oleh karena itu, selain pemberian serum apabila tubuh kita sudah sembuh dari penyakit segeralah lakukan vaksinasi.

Bagaimana vaksin dibuat? Vaksin dibuat dengan cara melumpuhkan atau mematikan kuman. Dengan konsentrasi tertentu, vaksin disuntikkan ke dalam tubuh seseorang sehingga sistem kekebalan tubuhnya memberikan respon terhadap vaksin tersebut. Pada saat ini vaksin banyak yang dibuat hanya dengan mengambil bagian gen kuman, sehingga relatif lebih aman (contoh : HbsAg, Hepatitis B surface antigen – red).

Bagaimana serum dibuat? Serum dibuat dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh suatu hewan (sapi, kuda, kambing, dll) sehingga kekebalan tubuhnya memberikan respon terhadap vaksin tersebut. Setelah diuji dan hasilnya menunjukkan bahwa hewan tersebut telah kebal terhadap vaksin yang dimasukkan, maka dilakukan pengambilan darah melalui vena leher (vena jugularis). Setelah diambil, darah kemudian dipisahkan antara plasma dengan sel-sel dan protein darahnya. Plasma darah kemudian dimurnikan menjadi serum. Serum inilah yang akan memberikan kekebalan kepada seseorang yang melakukan imunisasi dengan serum.

Jadi mulai sekarang pastikan keluarga anda telah diimunisasi, karena selama bertahun-tahun imunisasi telah memberikan sumbangan yang nyata terhadap kesehatan manusia di seluruh dunia. Jangan terjebak oleh isu-isu yang tidak benar. Pastikan selalu konsultasi dengan pihak pelayan kesehatan. by Adhika Seda Wardhana

link : http://biohealth.wordpress.com/2008/09/01/apa-beda-vaksin-dan-serum/

4 responses to “Apa Beda Vaksin dan Serum?

  1. apa perbedaan antara vaksin dan serum?
    dan jelaskan

    • vaksin itu untuk pencegahan sedangkan serum diberikan kepada orang yg terduga terpapar, seperti orang yg mengalami kecelakaan dan mendptkan luka yg terbuka memiliki potensi terkena tetanus maka diberikan anti tetanus serum.

  2. mau nanya…. gak berhub langsung ama vaksin sih….
    menurut admin…. orang indonesia sekarang itu lebih SEHAT ato lebih SAKIT dibandingkan orang-orang jaman majapahit, demak, mataram ato singosari.?????? (kalo abad 16-19 an sih nusantara dijajah jadi kesehatannya pasti buruk.)
    pembandingnya mungkin angka harapan hidup, kematian bayi, kematian karena wabah, dll. saya sangat senang kalo admin bisa memberikan sumber data nya juga…. hehehehe. trims.

    • Selamat pagi,

      Pada tahun 1804, untuk pertama kalinya penyakit cacar berjangkit di Batavia. Penyakit itu berasal ”Isle de France” (Mauritius), yang masuk Batavia dengan perantaraan para anak budak belian, berusia 6–12 tahun, penyakit itu terbawa sampaiBatavia.

      pada era kolonialisme tersebut, situasi penyakit menular yang menonjol adalah kejadian pandemi penyakit kolera yang dimulai dan berkembang dari daratan Pulau Sulawesi, dan selanjutnya menyebar ke hampir seluruh dunia.

      berdasarkan data sejarah Penyakit pes pertama kali masuk Indonesia pada tahun 1910 melalui Tanjung Perak, Surabaya. Kemudian tahun 1916 melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Tahun 1923 melalui pelabuhan Cirebon dan pada tahun 1927 melalui pelabuhan Tegal. Pada Maret 1911, kasus sampar pertama ditemukan di daerah Malang. Korban manusia meninggal karena pes dari 1910-1960 tercatat 245.375 orang, kematian tertinggi terjadi pada tahun 1934, yaitu 23.275 orang.

      Penyakit Kolera mulai dikenal pada tahun 1821 dan ada beberapa penyakit menular lainnya. Pada awal abad ke 20 Pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan eksploitasi perkebunan yang menjadi andalan modus perdagangan kolonial, telah memulai upaya pemberantasan penyakit cacingan di wilayah Banyumas Jawa Tengah dan upaya pemberatasan penyakit tuberkulosis dengan menggunakan sanatorium di beberapa tempat. Upaya ini menjadi momentum dimulainya upaya kesehatan masyarakat dengan menggunakan teknologi modern.

      Peristiwa lain yang juga tercatat dalam upaya pemberantasan penyakit menular pada era tahun 20-an adalah diberlakukannya ”Pillgrim Ordonantie” yaitu pengaturan karantina oleh Pemerintah Kolonial Belanda terhadap calon jemaah haji yang akan pergi ketanah suci yang dilakukan di Pulau Onrust di gugusan Kepulauan Seribu. Pengaturan ini merupakan awal dari suatu model kekarantinaan kesehatan dengan melakukan cegah tangkah terhadap masuk dan keluarnya penyakit menular yang memungkinkan terjadinya wabah (epidemi) bahkan mungkin pandemi seperti penyakit kolera dan pes (sampar). Guna mencegah penyebaran penyakit menular dan mengendalikan faktor risiko penyakit, Pemerintah Kolonial Belanda membangun Instalasi Kesehatan Lingkungan di Yogyakarta, yang merupakan cikal bakal upaya peningkatan hyiene dan sanitasi sebagai bagian dari upaya peningkatan kesehatan masyarakat.

      Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat mencari informasi ke perpustakaan Kementerian Kesehatan RI.

      Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda dan mohon maaf jika masih ada kekurangan informasi

      Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s