Vaksin Influenza


Influenza merupakan penyakit virus saluran napas unik, oleh karena menimbulkan wabah berulang dengan aktivitas kuat serta kejadian infeksi dan kematian yang tinggi pada semua usia. Di USA diperkirakan kurang lebih 48 juta kasus influenza pada segala usia selama musim dingin. Dari kasus yang terjadi tersebut 3,9 juta orang dirawat dan sekitar 20.000 orang meninggal.

Dilaporkan pada saat ini lebih dari 90% kematian karena influenza terjadi pada usia 65 tahun atau lebih.1-2 Angka kejadian infeksi virus influenza di Indonesia baik pada usia > 65 tahun atau lebih muda hingga saat ini belum ada laporan pasti. Sunaryo LH dkk, melaporkan pada periode 1 Januari – 31 Desember 2000 tercatat 400 pasien penyakit menular usia dewasa di ruang rawat inap Penyakit Dalam RSPB. Urutan kasus 3 besar yang ditemukan adalah : Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) 25,74 %, demam berdarah dengue (DBD)18,63 % dan hepatitis 15,20 %. Dalam pengamatan kasus tersebut, ternyata ISPA biasanya meningkat pada bulan Juli hingga September dimana pada saat tersebut merupakan pergantian cuaca.3 Di AS dilaporkan sekitar 41 juta orang mendapat vaksinasi influenza secara rutin berusia antara 50-64 tahun, 28-31 juta orang diantaranya adalah orang tanpa penyakit kronik. Walaupun orang usia dewasa sehat mempunyai risiko lebih rendah untuk sakit berat, tetapi influenza dapat merupakan penyakit berat pada usia muda, dan merupakan salah satu sebab peningkatan absensi. Vaksinasi pada usia < 65 tahun dapat mengurangi angka kesakitan sekitar 40 %, pengurangan kunjungan berobat, penurunan angka absensi serta pemakaian antibiotik.4,5 Virologi Virus influenza tergolong Famili orthomyxoviridae, yang terdiri dari genome RNA tunggal bersegmen. Virus terbagi 3 tipe yaitu tipe A, B dan C (gambar 1). Tipe A terdiri dari beberapa subtipe: yang sekarang beredar adalah subtipe H3N2 dan H1N1; masing-masing subtipe ini terdiri dari banyak strain. Yang penting secara klinis dan epidemiologis adalah kedua subtipe dari virus influenza tipe A (H3N2 dan H1N1), sedangkan virus influenza tipe B tidak mempunyai subtipe. Jadi vaksin influenza yang dibuat mengandung 3 strain virus yakni 2 subtipe A dan tipe B. Tipe A dapat menyerang manusia dan berbagai binatang, sedang tipe B dan C menyerang manusia. Tipe C biasanya lebih ringan, sehingga upaya pencegahan hanya ditujukan pada tipe A dan B. Antigen virus influenza terdiri dari beberapa komponen yaitu 1. Antigen internal : genome RNA dan protein M 2. Antigen eksternal/permukaan : hemaglutinin/HA dan neuraminidase/NA Influenza A dan B memiliki 8 segmen RNA sedang C hanya 7. Virus A lebih banyak diteliti oleh karena perubahan-perubahan yang dapat terjadi pada HA dan NA yang menimbulkan epidemi dan pandemi berulang. Virus A terdiri atas 15 HA dan 9 NA subgrup. 1, 2, 6-10 Setiap tipe virus mempunyai karakteristik dalam isolasinya. Pada influenza A, permukaan antigen HA dan NA memberikan nama untuk klasifikasi dari strain. Misalnya : • A/Moscow/10/99 (H3N2) adalah strain influenza A diisolasi di Moscow, strain nomor 10 pada tahun 1999, dengan hemaglutinin tipe 3 dan neuraminidase tipe 2 pada permukaan antigen. • B/Hong Kong/330/2001 adalah strain influenza B diisolasi di Hong Kong, strain nomor 330 pada tahun 2001. • Untuk strain yang infeksinya pada binatang berasal dari binatang dimasukkan dalam klasifikasi : A/Duck/Ukraine/1/63(H4N8) Epidemiologi Influenza terdapat di seluruh dunia. Penyakit ini mempunyai pola musiman, di wilayah bermusim empat terjadi pada musim dingin, dan wilayah tropis terjadi pada musim hujan. Penyebaran virus dipermudah dengan tinggalnya penduduk di rumah secara berdesakan. Infeksi virus influenza tipe A paling sering terjadi dan menimbulkan kesakitan dan kematian. Walaupun infeksi virus influenza tipe B bukan penyebab pandemi, tetapi dapat menimbulkan pandemi regional yang kurang berat dibandingkan pandemi influenza tipe A. Infeksi virus influenza tipe C jarang menimbulkan pandemi, tetapi hanya terjadi secara sporadik. Wabah influenza sebetulnya terjadi tiap tahun, meskipun besar dan beratnya bervariasi. Virus influenza cepat sekali bermutasi ketika berkembang biak dan menghasilkan strain-strain baru terus-menerus, sekalipun masih termasuk subtipe semula. Proses ini kita temukan baik pada virus influenza tipe A maupun tipe B. Seringkali munculnya strain baru menyebabkan KLB setempat. Orang yang telah mempunyai antibodi terhadap satu strain tertentu, biasanya masih mempunyai imunitas terhadap strain yang lain sekalipun hanya parsial, asal saja masih termasuk subtipe yang sama. Ini yang menyebabkan KLB influenza tidak begitu ditakuti dibandingkan pandemi influenza. Apabila muncul subtipe baru (misalnya H5N1), maka dikhawatirkan bisa menjadi pandemi dengan angka kematian tinggi, oleh karena itu tidak ada manusia yang imun terhadap subtipe baru itu. Wabah terbesar disebabkan virus influenza tipe A oleh karena antigennya yang dapat berubah (antigenic shift), bila perubahannya kecil atau minor disebut antigenic drift. Pada abad ke 20 M, terjadi beberapa kali wabah influenza. Yang paling hebat adalah tahun 1918 disebut Spanish influenza, yang memakan korban sebanyak 20-40 juta jiwa. Setelah itu berturut-turut Asian flu tahun 1957, Hong Kong flu tahun1968 dan Russian flu tahun 1977 (gambar 4). Epidemi influenza A biasanya terjadi mendadak, puncaknya sekitar 2-3 minggu, umumnya berlangsung 2-3 bulan dan sering berhenti mendadak. Wabah influenza B tidak begitu berat. Antigen H dan N influenza B lebih stabil. Wabah influenza B sering terjadi pada anak sekolah dan militer. Influenza C nampaknya hanya menimbulkan infeksi subklinis, kadar antibodinya tinggi pada populasi umum. Di negara-negara empat musim, kasus influenza terjadi pada musim dingin, sangat sedikit kasus terjadi pada musim panas. Oleh karena itu, kampanye vaksinasi influenza dilakukan sebelum musim dingin tiba. Di negara-negara tropik, kasus influenza terdapat sepanjang tahun dengan fluktuasi yang tidak begitu mencolok seperti di negara empat musim. Pola seperti ini tampak pada hasil surveilans di Singapura dan Thailand.1, 2, 6, 10 Patogenesis Penularan influenza sangat mudah terjadi melalui batuk, bicara serta bersin yang membentuk partikel infeksius di udara dan dapat berpindah dari orang sakit kepada orang yang mempunyai risiko tertular. Penularan lain dapat melalui kontak langsung seperti pada saputangan, sprei dan handuk. Infeksi influenza terjadi melalui aerosol, partikel virus ditangkap oleh mukus dan didorong oleh sel-sel silia pada saluran napas. Pada burung, virus masuk ke gastrointestinal dan menyebar melalui feses. IgA mukosa dan IgG serum terhadap molekul HA, dapat menetralisir virus dan berperan terhadap re-infeksi. Respon Ig terhadap HA adalah subtipe spesifik, tetapi dengan adanya point mutation (antigenic drift), virus dapat terlindung dari bahaya destruksi. Antibodi terhadap NA tidak mencegah infeksi, tetapi mengurangi penyebaran virus.6,9 Gambaran Klinis Timbul mendadak, nyeri kepala, panas, menggigil, mialgia, malaise, batuk dan sakit tenggorok. Tanpa komplikasi, membaik dalam 5-7 hari. Komplikasi yang timbul adalah pneumonia. Komplikasi ekstrapulmoner, misalnya miositis, rhabdomiolisis, mioglobinuria. Pernah dilaporkan ensefalitis, mielitis dan Guillain Barre Syndrome terjadi pada anak 2-16 tahun.1 Waktu inkubasi biasanya satu hingga dua hari. Peningkatan suhu badan dalam 12 sampai 24 jam antara 101-104oF. Tekanan bola mata dirasakan meningkat, infeksi konjungtiva dan mata berair sering terjadi. Dalam 24 jam berikutnya terjadi demam tinggi, hidung dapat terasa buntu, tenggorokan terasa kering, dan kadang terjadi laringitis dengan suara serak. Rasa nyeri substernal dapat ditemukan, mungkin disebabkan karena pengaruh virus pada saluran napas bagian bawah. Napsu makan berkurang sehingga penderita merasa lemas. Pada pemeriksaan bakteriologis saluran napas didapatkan gambaran bakteri penyerta yang tidak selalu sama. Pada masa konvasalen biasanya berlangsung cepat, tetapi sering terjadi batuk berkepanjangan. Pada penderita usia lanjut, keluhan dapat berkepanjangan. Komplikasi paru-paru paling sering merupakan masalah serius, terutama bila demam dan gejala-gejala muncul pada hari keempat dan kelima. Gambaran klinis sama untuk influenza A dan influenza B, sedangkan influenza C biasanya lebih ringan.1, 6 Diagnosis Biasanya menimbulkan epidemi, tidak sporadis, sulit menegakkan diagnosis tanpa adanya epidemi. Isolasi virus selama fase akut dari apus tenggorok, atau sputum yang dikultur dalam biakan jaringan selama 48-72 jam. Antigen virus dapat ditemukan dalam biakan jaringan dengan teknik imunodiagnostik (dalam usaha mempercepat mendapat identifikasi, meski kurang sensitif dibanding dengan cara identifikasi yang lain). Infeksi akut ditentukan dari peningkatan 4x atau lebih anti HA dengan Elisa antara masa akut 10-14 hari. Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan leukopeni dan proteinuri. Nekrosis epitel saluran napas menyebabkan timbulnya infeksi bakteri sekunder seperti sinusitis, otitis media, bronkitis purulen, pneumonia pneumokokus.1, 6 Prognosis Prognosis pada umumnya baik, penyakit yang tanpa komplikasi berlangsung 1-7 hari. Kematian terbanyak oleh karena infeksi bakteri sekunder. Bila panas menetap lebih dari 4 hari dan lekosit > 10.000/ul, biasanya didapatkan infeksi bakteri sekunder.6 Terapi a. Terapi simptomatis National Institute of Allergy and Infectious Diseases di USA menganjurkan pada penderita influenza untuk istirahat cukup, minum cairan banyak dan minum obat golongan asetaminofen untuk mengurangi demam dan keluhan lainnya. Pada keadaan didapatkannya infeksi sekunder pneumonia bakteri sebagai penyebab, pemberian antibiotik dapat segera diberikan.11 b. Terapi medikamentosa Amantadine dan Rimantadine diberikan pada terapi influenza A, tetapi tidak cukup efektif pada influenza B. Hal ini merupakan keterbatasan, karena influenza A dan B tidak dapat dibedakan secara klinis dan dapat terjadi bersama-sama. Dilaporkan beberapa kasus resistensi dan pemakaian Amantadine mempunyai efek samping terutama pada SSP. Zanamivir dan Oseltamivir merupakan golongan neuraminidase inhibitor. Aktivitas Zanamivir sebagai profilaksis cukup efektif baik virus influenza A maupun B. Makela MJ. dkk melaporkan pada penelitian terhadap 277 penderita positif influenza dan 32 penderita risiko tinggi, didapatkan bahwa Zidamivir menurunkan gejala influenza 46% dan lama sakit secara bermakna dibandingkan plasebo.9 Imunisasi Vaksin influenza dibuat berdasarkan rekomendasi WHO setiap tahun tentang strain-strain yang diperkirakan akan dominan pada musim dingin yang akan datang dibelahan bumi bersangkutan, perkiraan ini dibuat berdasarkan surveilans influenza global yang diikuti oleh lebih dari 100 laboratorium di seluruh dunia. Untuk belahan bumi sebelah utara, rekomendasi ini dikeluarkan setiap bulan Februari untuk mengantisipasi musim dingin akhir tahun. Pada dewasa ini, sejak beberapa tahun terakhir, WHO merekomendasikan virus influenza 2 strain dari subtipe A(H1N1) dan A(H3N2) serta 1 strain dari tipe B untuk dibuat menjadi vaksin. Virus dibiakkan pada telur ayam, oleh karena itu tidak direkomendasikan untuk penderita alergi telur. Vaksin influenza berupa vaksin mati.1,6 Konfigurasi antigen vaksin berubah setiap tahun, vaksin dibuat berdasarkan strain yang prevalen (isolasi pada tahun sebelumnya). Ada beberapa macam vaksin influenza : 1. Whole virion vaccine (dari virus utuh): menggunakan seluruh partikel virus dan mempunyai imunogenisitas baik, tapi efek samping lebih banyak. 2. Split virus vaccine (masih mengandung RNA dan protein M): imunogenisitas baik dan efek samping lebih sedikit. 3. Subunit virus vaccine (hanya HA dan NA): efek samping sedikit, kurang imunogenik. Di Indonesia telah dipasarkan split virus vaccine oleh karena imunogenisitas tinggi dan efek samping rendah.6,10 Tipe virus yang digunakan yang terbanyak di dunia A (H1N1), A(H3N2) dan tipe B, susunan vaksin disesuaikan dengan karakteristik strain yang sering terjadi, sesuai dengan data laporan yang dikumpulkan WHO. Dosis vaksin untuk dewasa diberikan 0,5 ml intra muskular di daerah deltoid. Oleh karena dampak potensial vaksin influenza terhadap kesehatan cukup tinggi, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan ACIP (Advisory Committee on Immunization Practices) menganjurkan pemakaian vaksin influenza terutama pada 11 : 1. Usia diatas 65 tahun 2. Penderita penyakit kronik dalam perawatan rumah atau panti-panti dengan kondisi penyakit kronik. 3. Anak dan dewasa penderita kelainan kardiovaskular atau paru-paru. 4. Orang dewasa yang memerlukan perawatan rutin atau rawat inap karena penyakit kronik misalnya diabetes melitus, kelainan ginjal, kelainan darah (hemoglobinopati), mendapat terapi imunosupresan, atau penderita HIV. 5. Anak dan remaja yang mendapat terapi aspirin jangka panjang dan mempunyai risiko terjadinya sindroma. 6. Wanita hamil trimester kedua dan ketiga di musim influenza. 7. Vaksinasi dapat mengurangi morbiditas sebesar 35-60% usia lanjut yang seharusnya masuk rumah sakit dan menurunkan mortalitas sebesar 35-80% penderita yang dirawat di rumah sakit.1,6 Wilde JA dkk, melakukan pengamatan pada 264 orang petugas kesehatan sehat yang mendapatkan vaksinasi influenza selama musim dingin dari tahun 92-93 hingga 94-95. Didapatkan efikasi vaksin 88% untuk influenza A dan 89% influenza B, ternyata angka kumulatif demam yang disertai infeksi saluran napas sebesar 28,7% pada kelompok vaksinasi, dibandingkan 40,6% kelompok kontrol. Angka absensi menurun, pada kelompok vaksinasi 9,9% dibandingkan kelompok kontrol 21,1%. Disimpulkan bahwa vaksin influenza ternyata mempunyai efektifitas yang cukup tinggi, sehingga mendukung data untuk dilakukan vaksinasi secara berkala.11 Pencegahan morbiditas 12 : 1. Petugas komunitas (pemadam kebakaran, polisi) 2. Orang-orang yang banyak terpapar virus influenza (siswa sekolah, penghuni asrama, rumah perawatan, termasuk personil medis) 3. Orang-orang yang bepergian (wisatawan) 4. Siapa pun yang ingin mengurangi risiko terkena influenza. Kesimpulan Influenza merupakan infeksi saluran napas yang perlu mendapat perhatian karena dapat menurunkan kualitas kerja. Vaksinasi influenza perlu dipertimbangkan pada kelompok usia produktif yang merupakan tulang punggung ekonomi dan sosial baik dalam keluarga maupun masyarakat luas. Vaksinasi influenza pada pekerja sehat dapat menurunkan angka kesakitan, serta kunjungan ke poliklinik perusahaan. Vaksinasi influenza diberikan setiap tahun mengingat adanya perubahan strain virus influenza. Daftar Pustaka 1. Fauci, Barunwald, Isselbacher, Wilson, Martin, Kasper, Hauser, Longo. Influenza and other viral respiratory diseases. Dalam: Harrison’s of Principles of Internal Medicine. Companion Handbook. Ed.14. McGraw-Hill. New York; 1998: 555-60. 2. Maassab HF, Herlocher ML, Bryant ML. Live influenza virus vaccine. Dalam: Plotkin SA, Orenstein WA (Eds). Vaccines. Philadelphia. WB Saunders Company. 1999;909-27. 3. Sunaryo LH, dkk. Pola Penyakit Menular Pasien Dewasa. Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Pertamina Balikpapan Periode Januari s/d Desember 2000. Simposium Imunisasi Dewasa Balikpapan, Juli 2001. 4. Couch RB. Wood AJJ (ed) Prevention and Treatment of Influenza. N Engl J Med 2000;343:1778-87. 5. Palache AM. Influenza Vaccines. A Reapraisal of Their Use. Drugs 1997.Dec;54(6);841-51. 6. Tierney LM, McPhee SJ, Papadakis MA. Influenza. Dalam: Current Medical Diagnosis & Treatment. Prentice-Hall International, Inc. London/. Ed 38. 1999: 1279-81. 7. Webster RG, Doherty PC, Tripp RA. Influenza virus (Orthomyxoviruses), Infection and Immunity. Dalam: Delves PJ, Roitt IM (Eds). Encyclopedia of Immunology, 2nd ed, vol.3. 1998; 1385-7. 8. Levinson WE, Jawetz E. RNA enveloped Viruses. Dalam: Medical Microbiology & Immunology. 2nd Ed. A Lange Medical book. Norwalk 1992;177-81. 9. Hoe LK. Influenza: What is the Role of Vaccination and the New Anti-viral Agents? Medical Progress, August 2000; 15-18. 10. SmithKline Beecham, Winning the battle against influenza. Dalam : Fluarix. TMG Healthcare Communications Ltd. 1999;1-15. 11. Modli JF, Prevention and Control of Influenza Recommendations of ACIP. April 2000;5-37. 12. Centers for Disease Control and Prevention. Prevention and Control of influenza: Reccomendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). MMWR Morb Mortal Weekly Rep 46(RR-9): 1-25, 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s