Gallery

Mahalnya Harga Sebuah Reputasi


Apa pun profesi Anda, jalankan dengan sungguh-sungguh! Mungkin, ungkapan itu kerap Anda dengar, baik itu dari konsultan bisnis maupun para CEO yang sukses. Memang, kesannya terlalu teoritis, tapi, pada kenyataannya itulah resep rahasia para orang sukses.

BUKAN SEKEDAR MEMENUHI KEWAJIBAN

Selama ini, Amalia, 29, seorang staf marketing, beranggapan bahwa reputasi yang bagus hanya diperlukan oleh kalangan pengacara atau konsultan bisnis, atau mereka yang berada di posisi manajer ke atas.

Ungkapan Amalia ini, menurut Himawan Wijanarko dari The Jakarta Consulting Group, tidak mencerminkan profesionalisme. Profesionalisme tidaklah dimonopoli oleh profesi tertentu. Sebab,

Profesionalisme pada galibnya adalah suatu standar perilaku yang harus muncul dalam sebuah tugas, pekerjaan, dan profesi.

Sedangkan yang dimaksud dengan reputasi adalah akumulasi dari citra (image) dalam rentang waktu yang cukup panjang, dan dari sudut pandang berbagai pihak, yang berkait dengan dirinya Tatkala seseorang sudah menjunjung tinggi profesionalisme secara konsisten, itu artinya ia akan memetik buahnya: berupa reputasi yang bagus di kemudian hari.

PRINSIP-PRINSIP PROFESIONALISME

Budaya perusahaan memang terkadang sangat berpengaruh dalam membentuk profesionalisme. Namun, prinsip-prinsip profesionalisme harus dimiliki oleh setiap orang.

1. Memiliki tanggung jawab.

Artinya, seorang profesional harus punya rasa tanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaannya maupun orang-orang yang bekerja sama dengannya.

2. Berinisiatif.

Rasa tanggung jawab membuat seorang profesional berani mengambil inisiatif untuk melakukan apa saja yang diperlukan. Tujuannya, demi mencapai standar kualitas, dalam hal ini performa atau kinerja yang tinggi.

3. Rasa cinta pada pekerjaan.

Seorang profesional memiliki passion pada apa yang dikerjakannya. Uang atau penghasilan bukanlah tujuan utama.

4. Adanya kesetiaan atau loyalitas.

Atas dasar cinta tersebut, profesional sejati menunjukkan kesetiaan pada profesi yang dipilihnya.

5. Menundukkan diri pada nilai-nilai etis.

Termasuk peraturan perusahaan, peraturan perundangan, dan hukum, sepanjang norma yang berlaku itu sesuai dengan hati nurani. Untuk itu, profesional sejati punya integritas yang kokoh.

6. Mau belajar dari kesalahan.

Setiap orang bisa saja melakukan kesalahan. Hindari bersikap arogan dan berkelit dari kesalahan.

7. Jujur dan bisa dipercaya.

Dalam dunia kerja yang ketat kompetisi ini, nilai kejujuran kian diabaikan. Padahal, jika sekali saja ketahuan bahwa seorang karyawan tidak bisa dipercaya, maka jatuhlah reputasinya seketika.

8. Bertanggung jawab hingga hari terakhir bekerja.

Meski Anda sudah mengundurkan diri, bukan berarti Anda bebas dari tanggung jawab. Bila Anda bisa menjaga reputasi baik Anda hingga detik-detik terakhir Anda berada di sebuah perusahaan, niscaya nama baik Anda pun akan tercatat. Dan, itu merupakan modal yang berharga untuk langkah Anda

Link : http://www.femina.co.id/issue/default.asp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s