VAKSIN EDIBLE : INOVASI TEKNOLOGI VAKSIN MASA DEPAN


Thinking out of the box!”, Ya, Berpikir di luar “kotak”__ berpikir mengenai hal-hal baru, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh orang lain. Pada zaman yang ketat dengan persaingan seperti sekarang ini, tidak cukup hanya mengandalkan pekerjaan otot, namun sangat dibutuhkan pekerjaan-pekerjaan otak yang cerdas diiringi kepekaan nurani yang cerdas pula, sehingga dihasilkan ide dan gagasan-gagasan yang segar dan inovatif untuk menjawab setiap permasalahan dan tantangan, terutama dalam dunia industri kesehatan. Termasuk salah satunya dalam industri vaksin.

Industri vaksin dibangun di atas niat yang sangat mulia, yakni membentengi setiap penduduk terutama generasi dari serangan berbagai patogen (penyakit) dengan cara membentuk tentara-tentara kekebalan yang tangguh di dalam tubuh. Tentunya industri vaksin ini berdiri di atas ilmu pengetahuan yang komprehensif dan aplikasi teknologi yang apik. Ilmu pengetahuan yang terdiri dari kolaborasi berbagai bidang ilmu seperti ilmu kedokteran, biologi molekuler, kimia, serta ilmu-ilmu teknik untuk produksi skala besar. Perkembangan bidang-bidang ilmu ini selalu dinamis, lahir dari pemikiran para ilmuwan yang inovatif.

Vaksin yang selama ini digunakan adalah berupa cairan yang disuntikkan ke dalam tubuh, yang akan akan mengaktifkan tentara kekebalan untuk menyerang suatu penyakit tertentu. Cara vaksinasi seperti ini dinilai kurang praktis, terutama saat mengingat penerima vaksin mayoritas bayi dan anak-anak. Mereka sangat sulit menerima suntikan karena merasa takut dan sakit, sehingga sering membuat anak menangis dan rewel. Selain itu, vaksin yang dibuat berupa cairan suntik harus tetap terjaga baik dalam penyimpanan. Penyimpanan dilakukan secara  khusus di dalam bioreaktor besar disertai mesin pendingin. Teknologi penyimpanan ini tentunya menghabiskan harga yang cukup besar.

Permasalahan tersebut di atas dijadikan tantangan oleh para ilmuwan untuk membuat inovasi vaksin yang lebih praktis dalam proses produksi, peyimpanan, mudah saat digunakan dan tentunya harga produksi yang lebih murah. Inovasi vaksin yang sedang dikembangkan pada abad ini adalah “edible vaccine” (Vaksin edible) atau disebut juga vaksin yang dapat dimakan. Teknologi ini menggunakan tanaman transgenic, yaitu tanaman pangan yang telah disisipkan oleh gen tertentu (vaksin). Vaksin, dalam hal ini antigen dari patogen diintegrasikan ke dalam genom tanaman yang sudah dipilih, sehingga tanaman tersebut dapat mengekspresikan dan menghasilkan antigen yang akan merangsang antibodi suatu penyakit.

Vaksin edible ini pertama kali diteliti di Universitas Maryland, Baltimore pada tahun 1998 dan telah dilakukan uji coba terhadap manusia. Vaksin dari toksin E. colli  disisipkan ke dalam tanaman kentang. Kentang transgenik tersebut dikonsumsi oleh 11 orang dewasa dengan kondisi sehat kemudian dilakukan pemeriksaan. Dari sampel darah yang diperiksa, 10 dari 11 orang tersebut mengalami peningkatan kadar antibodi, diantaranya menunjukkan peningkatan antibodi pada usus. Hal ini dapat menjelaskan keberhasilan penggunaan vaksin edible. Vaksin edible dinilai cukup efektif dalam meningkatkan kekebalan tubuh.

Penggunaan tanaman transgenik yang telah disisipkan vaksin ini dapat dikonsumsi secara aman oleh manusia dan hewan karena tidak menimbulkan efek samping yang merugikan. Tanaman yang dapat digunakan untuk vaksin edible ini adalah tanaman yang dapat dikonsumsi dalam keadaan mentah. Tanaman yang paling efisien digunakan adalah kentang, pisang dan tomat. Kentang dan tomat pernah berhasil diteliti di Universitas Maryland, digunakan untuk membuat vaksin edible hepatitis B. Begitu juga dengan tanaman jagung dan gandum, berhasil diujicobakan sebagai tanaman vaksin yang dapat dimakan oleh hewan.

Selain alasan praktis dan murah, penggunaan teknologi ini juga dapat menjawab keraguan masyarakat mengenai kehalalan vaksin. Vaksin suntikan diproduksi dan ditumbuhkan dalam kultur hewan sedangkan vaksin edible diintegrasikan dengan genom tanaman. Informasi ini memberikan sinar harapan dalam perindustrian vaksin, dan tentunya kepada warga masyarakat karena kelak tidak harus repot lagi jika akan melakukan imunisasi. Oleh karena itu, informasi mengenai vaksin yang dapat dimakan ini sangat penting untuk ditelaah dan dikembangkan di Indonesia.

Dalam melakukan inovasi dan mendalami teknologi vaksin edible ini, kunci paling penting adalah ilmu pengetahuan. Temuan baru ini harus terus dikembangkan dan diteliti dari berbagai aspek. Bidang ilmu yang sangat berperan dalam tenknologi vaksin edible ini adalah Bioteknologi, yaitu sinergisasi antara bidang ilmu biologi dan aplikasi teknologi untuk menghasilkan suatu produk yang berdaya guna. Dalam hal ini, sedikitnya dua bidang bioteknologi yang harus dikuasai yaitu Bioteknologi Hewan, untuk mendapatkan antigen dari virus yang sudah dilemahkan, serta Bioteknologi Tumbuhan untuk mengintegrasikan antigen tersebut secara stabil ke dalam tanaman pangan.

Dengan temuan inovasi teknologi vaksin ini, dapat diambil refleksi bahwa, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi senjata utama dan syarat kunci dalam menjawab persaingan industri di zaman ini. Kita dapat melihat contoh pada satu perusahaan industri vaksin di Indonesia, yaitu PT Biofarma yang telah berhasil berkiprah selama 121 tahun di dunia industri kesehatan dunia. Semakin lama usia kiprahnya, Biofarma menjadi perusahaan yang semakin kokoh dan dipercaya oleh masyarakat dunia. Hal ini membuktikan perusahaan ini telah dapat menjawab setiap tantangan yang datang setiap dekadenya. Perusahaan ini menjadikan permasalahan sebagai tantangan,dan menjawab setiap tantangan dengan sikap mental yang berani dan tentunya basis ilmu pengetahuan yang kuat.

Perusahaan melakukan pembinaan kualitas karyawan-karyawati agar memiliki penguasaan IPTEK yang mumpuni. Selain itu, Biofarma juga menjalin komunikasi dan kerja sama dengan pihak akademisi, pebisnis dan pemerintah untuk pengembangan riset vaksin nasional. Ratusan program beasiswa digulirkan untuk karyawan-karyawati baik dalam maupun luar negeri.  Program beasiswa juga tidak hanya diberikan untuk karyawan, tetapi juga untuk masyarakat lingkungan sekitar. Setiap tahun, sedikitnya 600 anak bangsa mendapat bantuan beasiswa pendidikan dari PT Biofarma. Bagi Biofarma, cost yang dikeluarkan untuk pendidikan dan pengembangan IPTEK bukan termasuk beban, justru merupakan investasi emas karena akan memunculkan tunas-tunas inovasi untuk perusahaan dan bangsa.

Dari sekelumit tulisan ini, dapat disarikan sedikit inspirasi bahwa ada dua kekuatan besar di sini, yakni “sehat dan cerdas”__ “kesehatan dan pendidikan”. Vaksin edible memberikan inspirasi mengenai penguasaan IPTEK yang membuahkan inovasi berupa kemudahan vaksin masa depan, dan kiprah 121 tahun PT Biofarma telah menjawab dua kekuatan besar itu. PT Biofarma tidak hanya berkontribusi besar dalam menyehatkan kehidupan masyarakat dunia, tetapi PT Biofarma juga mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia terus bergerak dan berkiprah, membentuk pribadi yang sehat dan berilmu, untuk inovasi tiada henti dan bangsa yang mandiri.

*Penulis,
Luthfia Hastiani Muharram, Mahasiswi Magister Bioteknologi ITB, Keluarga Karyawan PT Bio Farma (Persero)

Sumber : PR PT Bio Farma (Persero)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s