Imunisasi Turunkan Angka Kematian Ibu & Anak


IMUNISASI tidak hanya menciptakan kekebalan tubuh tetapi juga bisa memutus mata rantai penularan penyakit pada anak maupun orang dewasa. Karenanya, imunisasi merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan untuk menanggulangi angka kematian anak.

Imunisasi merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan, yang merupakan salah satu bentuk kegiatan promotif preventif serta bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mencapai Milenium Development Goals (MDGs), khususnya untuk menurunkan angka kematian pada anak dan ibu. Begitu dituturkan

Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K) MARS DTM&H DTCE  selaku Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI.

“Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) masih merupakan penyebab kematian dan kecacatan anak di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia, diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5 persen pada anak balita diakibatkan oleh PD3I,” kata Tjandra Yoga di auditorium Gubernur Sumatera Barat saat seminar sehari bertema “Imunisasi untuk buah hati kita”.

“Imunisasi merupakan salah satu upaya yang efektif untuk menekan angka kesakitan dan kematian tersebut. Penyelenggaraan program imunisasi telah didasarkan melalui telaah secara ilmiah dan menggunakan vaksin yang terbukti aman dan berkualitas. Vaksin yang digunakan imunisasi adalah produksi Biofarma Indonesia yang juga digunakan oleh lebih 110 negara termasuk lebih dari 50 negara anggota Organisasi Konperensi Islam,” sambungnya.

Menurut Tjandra, keberhasilan penting program imunisasi, yaitu bebasnya penyakit cacar pada 1974. Kasus terakhir di Indonesia ditemukan pada 1972 dan pada 1974 Indonesia secara resmi dinyatakan negara bebas cacar.

“Tahun 1977 sampai 1980 mulai diperkenalkan imunisasi BCG, DPT dan TT secara berturut-turut untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit-penyakit TBC anak, difteri, pertusis, dan tetanus neonatorum. Dewasa ini, ada lima vaksin yang diberikan Program Imunisasi pada bayi dan anak Indonesia (untuk mencegah tujuh penyakit menular, yaitu Tuberkulosis, Polio, Difteria, Pertusis, Tetanus, Campak, dan Hepatitis B),” jelasnya.

Berdasarkan laporan rutin, persentase desa yang telah mencapai Universal Child Immunization (UCI) pada 2008 baru 68,3 persen dari 65.781 desa, dan setelah akselerasi pada 2010 mencapai 75,3 persen dari 75.990 desa. Walaupun semakin banyak desa yang telah mencapai UCI, tetapi masih banyak desa yang merupakan kantong rentan terhadap penyakit. Pencapaian UCI desa di Provinsi Sumatera Barat UCI desa tahun 2009 sebesar 95,5 persen, dan 2010 sebesar 97 persen.

“Penurunan kasus penyakit PD3I di Indonesia dapat dilihat dari penurunan jumlah kasus PD3I seperti campak yang dilaporkan dari 24.338 kasus tahun 2008 turun menjadi 17.139 kasus pada 2010, dan tetanus neonatorum dilaporkan sebanyak 198 kasus pada 2008 menjadi 137 beberapa tahun terakhir. Meskipun jumlah kasus menurun, namun kasus masih ada. Hal ini menunjukkan masih adanya kantung-kantung desa potensial KLB,” jelasnya.

“Khusus untuk Sumatera Barat, Peranan dari ‘Tigo Tungku Sajarangan’ (Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cerdik Pandai) sangat diharapkan untuk program imunisasi ke depan. Kepada Para tokoh agama dan tokoh adat Provinsi Sumatera Barat kami harapkan masukan dan dukungannya terhadap program imunisasi di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Barat,” tutupnya.

link : http://lifestyle.okezone.com/read/2011/10/20/195/517906/imunisasi-turunkan-angka-kematian-ibu-anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s