Menakar Trisula Emas MDGs di Indonesia


Oleh: EFRIE CHRISTIANTO
HARUS diakui program Millennium Development Goals (MDGs) atau Sasaran Pembangunan Milenium, merupakan program yang sarat dengan berbagai tujuan mulia dalam memberantas kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan untuk semua, mendorong kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, serta mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Program yang dikenal dengan Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan September 2000 ini, diyakini memiliki peran penting dalam mencari solusi bagi seabrek permasalahan yang mendera dunia internasional. Bagaimana pun deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3, dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.

Pemerintah Indonesia bersama 146 kepala pemerintahan dan negara, ikut menandatangani Deklarasi Milenium saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000. Target dari program ini adalah tercapainya kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada tahun 2015. Sejatinya deklarasi berisikan komitmen masing-masing negara dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah sasaran pembangunan, sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Secara ril, MDGs ingin memberantas kemiskinan dan kelaparan dengan mengalokasikan pendapatan populasi dunia sehari 1 dolar AS dan menurunkan angka kemiskinan. Selain itu, setiap penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar, mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 serta semua tingkatan pada tahun 2015.

Tak hanya itu, MDGs juga berkeinginan menurunkan angka kematian anak dengan target tahun 2015 yaitu mengurangi 2/3 tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun, menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya pada tahun 2015, mengurangi 2/3 rasio kematian ibu dalam proses melahirkan, mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat pada 2015 dan tahun 2020 diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh, serta mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional, dan lain-lain.

Menjadi sangat penting

Disadari atau tidak, MDGs telah menjadi referensi penting dalam pembangunan di Indonesia. Kondisi itu setidaknya terlihat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya. Realita di lapangan, memang masih ditemukan beberapa kendala yang dapat menjadi batu sandungan bagi pelaksanaan MDGs di Indonesia. Meski demikian, pemerintah telah berkomitmen untuk mencapai sejumlah sasaran yang ditetapkan dalam MDGs, melalui kerja keras dan kerja sama dengan seluruh pihak seperti masyarakat madani, swasta dan lembaga donor.

Secara hitung-hitungan di atas kertas, upaya Indonesia untuk mewujudkan MDGs pada tahun 2015 akan sangat sulit sekali. Sebab pada saat bersamaan, Indonesia harus pula menanggung beban pembayaran hutang yang sangat besar. Terlebih program-program MDGs seperti pendidikan, kemiskinan, kesehatan, lingkungan hidup, kelaparan, pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender, membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, per 31 Agustus 2008, beban pembayaran utang Indonesia terbesar akan terjadi pada tahun 2009-2015 dengan jumlah berkisar Rp 97,7 triliun (2009) hingga Rp 81,54 triliun (2015), yang rentang waktunya bersamaan dengan pencapaian MDGs. Jumlah pembayaran utang Indonesia, baru menurun drastis (2016) menjadi Rp 66,70 triliun. Sebab itu tanpa upaya negosiasi pengurangan jumlah pembayaran utang luar negeri, Indonesia dikhawatirkan akan gagal mencapai tujuan MDGs.

Namun keberadaan MDGs menjadi bagian yang sangat penting bagi Indonesia, khususnya dalam kapasitasnya sebagai trisula emas dalam mengentaskan kemiskinan, memajukan pendidikan serta menciptakan kesehatan yang lebih baik bagi anak bangsa. Sebab tak dapat dipungkiri, ketiga aspek tersebut (pendidikan, kemiskinan dan kesehatan ditambah lingkungan hidup), menjadi isu yang sangat krusial bagi bangsa Indonesia. Pemerintah memang menaruh perhatian lebih terhadap tiga aspek, yang dapat disebut-sebut sebagai trisula emas untuk merubah nasib bangsa.

Selama ini persoalan pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup dan kemiskinan, kerap menjadi kendala bagi Indonesia untuk menunjukkan jati dirinya di mata dunia internasional. Upaya penanganan kesehatan, lingkungan hidup, kemiskinan dan pendidikan, dianggap masih sangat lemah dan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dengan adanya MDGs, setidaknya Indonesia akan terbantu dalam mengatasi berbagai persoalan di lingkup pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan lingkungan hidup.

Terlepas dari berbagai persoalan itu, yang jelas pemerintah Indonesia sangat berkeinginan mencapai target-target MDGs sebagaimana terangkum dalam delapan butir target. Yaitu memberantas kemiskinan dan kelaparan, memberi layanan pendidikan untuk semua, mendorong kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, memastikan kelestarian lingkungan hidup, serta mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Sebagai salah satu upaya memenuhi target pembangunan dalam periode terbatas ini, pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden No. 3 tahun 2010 mengenai Program Pembangunan yang Berkeadilan, dan mengamanahkan langkah-langkah percepatan pencapaian MDGs di Indonesia, serta menjabarkan secara rinci berbagai kebijakan dan strategi untuk mencapai (roadmap) percepatan pencapaian MDGs yang dibuat Bappenas.

Bagaimanapun MDGs dapat dijadikan sebagai platform yang sangat strategis untuk mengukur dan memonitor pembangunan di suatu daerah. Meski pencapaian target pembangunan MDGs bukan perkara yang mudah. Sebab banyak faktor yang dapat menjadi kendala, misalnya krisis finansial atau bencana alam baik skala nasional maupun global. Namun yang terpentingadalah komitmen untuk terus berinovasi, menjalin kerja lintas sektor demi menghasilkan karya terbaik untuk menunjang pembangunan nasional dan memajukan anak bangsa. Jangan pernah putus asa atau patah semangat. Mari beraksi untuk negeri dengan menunjukkan karya dan prestasi dalam membentuk fondasi nasional yang kuat. (Penulis, wartawan HU Galamedia)**

link : http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20111215111036&idkolom=opinipendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s