Imej Negatif Imunisasi tak Benar


Padang, Padek—Imunisasi tidak akan membuat anak-anak bodoh, cacat, dan lain sebagainya. Imunisasi bukanlah program yang mematikan. Seandainya itu benar, sudah banyak anak-anak di Indonesia atau bahkan di dunia yang bodoh dan cacat.

Demikian dikatakan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno pada seminar ‘Imunisasi untuk Kesehatan Buah Hati Kita’ di Auditorium Gubernuran Sumbar, Rabu (19/10).
“Justru sebaliknya, dengan tidak melakukan imunisasi, berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan anak,” ujar Gubernur pada seminar yang juga dihadiri Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI, Chandra Yoga Adhitama, Kadinas Kesehatan Provinsi Sumbar, Rosnini Savitri, Ketua LKAAM Sumbar M Sayuti Datuak Rajo Panghulu, dan sejumlah Organisasi Islam di Sumbar.
Gubernur menyebutkan, capaian cakupan imunisasi di Sumbar masih sangat jauh dari target nasional. Sampai Agustus 2011 baru 42 persen dari target nasional yang seharusnya sudah mencapai 82 persen. Sebab itulah, Pemprov mohon dukungan kepada organisasi Islam, masyarakat, maupun orangtua dalam menyukseskan program tersebut.
“Kami sangat peduli, dan tidak ingin penyakit seperti campak, hipatitis. tuberkulosis, polio dan lain- lain, mewabah di tengah-tengah masyarakat, khususnya anak-anak kita. Kita tidak menginginkan kejadian luar biasa, apalagi kematian akibat dari rendahnya kesedaran masyarakat untuk mengimunisasi anak-anaknya,” tegas politisi dari partai PKS ini.
Waspadai Polio
Dalam hal pencapaian imunisasi, dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, Kabupaten Kepulauan Mentawai berada pada urutan terbawah. Pada tingkat nasional Mentawai berada pada urutan 409 dari 440 kabupaten dan kota di Indonesia. Sementara itu, Bukittingi teratas di Sumbar, dengan urutan 33 di tingkat nasional.
Sementara itu, Chandra Yoga Aditama mengatakan, sejak tahun 2006, polio sudah tidak ada lagi ditemukan di Indonesia. Namun, dia masih khawatir polio bisa kembali berjangkit, yang masuknya dari negara tetangga.
“Artinya, kita tetap perlu waspada. Dalam hal ini, pemerintah akan menjadikan tahun 2012 sebagai tahun Intensifikasi Imunisasi Rutin (IIR). Untuk itu, pemerintah pusat telah sepakat dengan kepala daerah di seluruh Indonesia dalam mendukung dan menyukseskan kegiatan ini,” tuturnya.
Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri mengakui, sesungguhnya ada kendala kecil yang justru berpotensi menurunkan capaian peserta imunisasi. “Salah satunya adalah berkembangnya mitos negatif yang menyatakan imunisasi menyebabkan anak cacat hingga menyebabkan kematian,” sebutnya.
Bahkan, informasi-informasi negatif yang sesungguhnya tidak sepenuhnya benar, tak jarang pula disampaikan melalui doktrin agama yang sengaja dilakukan oleh kelompok tertentu, dengan memberikan ceramah di beberapa tempat.
Merujuk pada fatwa MUI Nomor 16 Tahun 2005 tentang Penggunaan Vaksin Polio, semua vaksin polio yang diproduksi saat ini, baik di dalam maupun luar negeri, masih menggunakan media dan proses pembuatan yang belum sepenuhnya sesuai dengan syariat Islam. Antara lain dengan menggunakan media jaringan ginjal kera.
Dalam fatwa MUI tersebut, pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin yang berasal dari atau mengandung benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram. Namun, pemberian vaksin polio kepada seluruh balita pada saat ini dibolehkan, sepanjang belum ada vaksin polio jenis lain yang produksinya menggunakan media dan proses yang sesuai dengan syariat Islam.
Untuk itu, sesuai fatwa tersebut, Ketua Bidang Fatwa MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar menyebutkan, pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal bersama WHO dan negara-negara Islam atau yang berpenduduk muslim, agar memproduksi vaksin polio yang sesuai dengan syariat Islam.
Sementara itu, Ketua LKAAM Sumbar M Sayuti Dt Rajo Panghulu berpendapat, untuk beberapa penyakit dari dulu Minangkabau memiliki imunisasi untuk kekebalan tubuh. Bedanya, imunisasi ala Minangkabau tersebut tidak disuntikkan ke tubuh seperti vaksin dalam program imunisasi modern saat ini.
Imunisasi ala kearifan lokal Minangkabau tersebut, ada sebanyak empat macam. Pertama, diluma atau menghaluskan beberapa jenis ramuan obat-obatan, yang nantinya dioleskan kepada anak-anak yang berusia di bawah tiga bulan. Ini berguna untuk menolak penyakit serangan serangga.
Kemudian, diburo atau beberapa jenis ramuan disiramkan kepada anak-anak umur tertentu, untuk tahan dari penyakit kulit, seperti cacar. Ada juga didiang atau diasapi. Berguna untuk tahan dari penyakit dalam. Dan terakhir dirandam atau direndam, untuk tahan mengahadapi cuaca hujan atau panas.
“Imunisasi la keraifan lokal Minangkabau tersebut secara filosifis tertuang dalam ungkapan adat, tahan pahek dek gergaji, tahan tapo jo tapalian, tahan ujan jo paneh, tahan angek jo dingin,” tukasnya.(*) [ Red/Redaksi_ILS ]

link : http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=15045

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s