TB, Takut Dikucilkan Enggan Berobat


KETAPANG – Pengentasan penyakit tuberkulosisi atau TB hingga sekarang masih menjadi salah satu sorotan utama pemerintah. Karena itu sebagai kompensasi bagi masyarakat, pemerintah menggelontorkan sejumlah anggaran untuk biaya pengobatan penderita penyakit ini.

Sebagaimana diketahui, TB sendiri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan Bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan dari orang ke orang. Ini juga merupakan salah satu penyakit tertua yang diketahui menyerang manusia.

“Untuk penanganan atau pengobatan penderita TB sendiri, biasanya paling cepat dua bulan dan paling lama enam bulan,” kata Kasi Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Ketapang, Basaria Rajaguguk.Walaupun semua biaya pengobatan ditanggung pemerintah, namun Basariah mengakui hingga sekarang masih banyak warga yang sadar bahwa dirinya terkena penyakit TB, namun enggan berobat. Keengganan penderita yang tidak mau berobat itu, akibat dari masih adanya stigma di masyarakat bahwa penyakit ini merupakan salah satu penyakit menular yang berbahaya. Akibatnya penderita TB rentan untuk dikucilkan. “Dari pada dikucilkan, kebanyakan si pederita ini  tidak mau memeriksakan dan mengobati dirinya lebih lanjut,” terangnya.

Keengganan penderita TB untuk memerikasan dan mengobati penyakitnya, bagi Basariah menjadi salah satu kendala mereka dalam mengatasi penyakit ini di Ketapang. Selain itu, bagi masyarakat di daerah pedalaman, jauhnya jarak tempuh dari rumah warga ke puskemas atau pusat pelayanan kesehatan lainnya, juga menjadi hambatan lain dalam mengatasi penyakit TB.

Basariah menerangkan, virus penyakit TB cepat menular, karena disebarkan melalui udara. Ia mencontohkan ketika sekali saja seseorang penderita TB batuk, bisa mengeluarkan 500 ribu hingga 1juta kuman yang disebarkan melalui udara. “Jadi kalau kita sedang berada di dekat si pendrita TB dan secara tidak sengaja menghirup udara di sekitar yang telah mengandung kuman tersebut, maka tanpa di sadari dan secara tidak langsung kita juga akan terkena suspect atau pembawa virus TB dan akan kembali menularkan ke orang lain,” paparnya.

Akan lebih berbahya jika seorang penderita yang menyadari bahwa dirinya terkena TB, kemudian mengikuti proses pengobatan, namun tidak tuntas. Karena, kata Basariah, kuman yang dibawa si penderita tersebut bisa lima kali lipat dibandingkan sebelum mereka berobat. “Makanya saya mengimbau kepada warga, jika merasa diri terkena virus TB, segera memeriksakan diri ke doklter atau puskesmas, sehingga bisa segera ditangani,” jelasnya. (ash)

link : http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=106826

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s