Imunisasi Lindungi Bayi dari Penyakit Mematikan


Jakarta – Imunisasi jangan dianggap sepele, karena bisa mencegah bayi dari serangan penyakit berbahaya dan mematikan. Menurut Sri Rejeki S. Hadinegoro, dokter spesialis anak, hal ini dikarenakan struktur perkembangan tubuh bayi belum maksimal dan rentan terhadap penyakit.

“Imunisasi atau vaksinasi, itu dilakukan sebagai  pencegahan atau preventif. Jadi, jangan sampai anak tersebut terlanjur sakit, barulah diberikan pengobatan. Penyakit yang diberikan imuniasasi adalah penyakit yang dapat mengakibatakan kematian dan kecacatan,” kata dr Sri Rejeki, dalam Dancow Parenting Center, di Kempinsky, Jakarta, Selasa (5/6).

Ia menjelaskan, bila anak sudah terlanjut sakit, maka dapat mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk pengobatan. Selain itu, orang tua juga apasti kebingungan, apalagi bila ternyata mengakibatakan kecacatan pada anak, bahkan meninggal.

Sri mencontohkan, imunisasi Bacille Calmette-Guérin (BCG) diberikan untuk mencegah penyakit TBC, yang dapat mengakibatkan radang otak. Apabila sejak kecil sudah tekena TBC, dapat menyebabkan resiko kebutaan, tuli, dan epilepsi. Sedangkan, pada vaksinasi Difteri Pertusis Tetanus (DPT), dilakukan untuk mencegah radang tenggorokan yang parah, yang beresiko besar mengakibatkan kematian.

“Vaksinasi DPT sangat penting diberikan kepada bayi yang baru lahir. Karena, bila bayi terkena penyakit tetanus, maka dapat mengakibatakn kecacatan. Yaitu kuman bisa masuk kedalam syaraf, dan bisa mengakibatakan lumpuh. Hal ini dapat diakibatkan oleh pemotongan tali pusar yang tidak steril,” ujar Sri.

Jelasnya, bayi sangat rentan terhadap penyakit karena struktur tubuh, terutama otaknya belum berkembang sempuran. Sehingga dapat menjadi sangata berbahaya bila terserang penyakit.

“Karena itu, sangat disayangkan bila ada orang tua yang tidak bersedia mengimunisasi anaknya. Karena tidak ada yang tahu kapan anak bisa terkena,” ujar Sri.

Ia menjelaskan, pada dasarnya, setiap ibu telah memberikan zat atibodi kepada anaknya, baik dari plasenta maupun ASI yang dikeluarkan. Namun, apabila kondisi yang ibu kurang baik, maka antibodi yang diberikan kepada anak juga kurang baik.

Karena itu, imunisasi diberikan sesuai kebutuhan atau kerentanan anak terhadap penularan. Misalnya pada campak diberikan 9 bulan setelah melahirkan . Sedangkan DPT diberikan 6 minggu setelah melahirkan.

“Imunisasi dibagi menjadi imunisasi dasar dan ulangan. Imuniasasi dasar adalah imunisasi pertama. Imunisasi ulangan itu untuk imunisasi dengan vaksin mati yang cepat habis, sehingga harus diulang selama periode waktu tertentu.” ujar Sri.

Misalnya untuk DPT imunisasi dasarnya selama 3 kali, yaitu 6 minggu pertama, dan selanjutanya 3-4 minggu selanjutnya, kemudian setahun kemudian, dan sebelum sekolah. Namun, apabila usia anak sudah besar atau dewasa, dapat melakukan vaksinasi lanjutan seperti Tetanus. Misalnya ketika ibua akan melahirkan ia harus disuntik dengan vaksinasi tetanus.  [WS]

sumber : http://www.gatra.com/kesehatan/73-kesehatan/13709-imunisasi-lindungi-bayi-dari-penyakit-mematikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s