ITAGI: Kampanye Negatif Antivaksin Tidak Boleh Dibiarkan


Jakarta, Adanya gerakan-gerakan menentang vaksin dan imunisasi menjadi ancaman bagi program imunisasi milik pemerintah. Namun hingga kini, capaian imunisasi masih sebesar 90 persen sehingga kampanye negatif tentang vaksin dinilai belum terlalu mengganggu.“Sejauh ini cakupan imunisasi masih 90 persen. Kampanye negatif tentang vaksin belum terlalu mengganggu, tetapi tetap tidak boleh kita biarkan untuk tujuan jangka panjang,” kata Dr Julitasari Sundoro, MSc, MPH dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dalan jumpa pers Forum Vaksin Riset Nasional ke-II di Hotel Aryaduta, Rabu (27/6/2012).

Diakui oleh Dr Julitasari, beberapa kejadian outbreak atau wabah penyakit terjadi karena banyak warganya menolak vaksin dan imunisasi untuk anaknya. Ketika kebetulan ada kuman dan ada anak yang belum kebal karena tidak divaksin, maka anak tersebut akan terjangkit dan memicu outbreak di lingkungannya.

Dengan bekerja sama dengan banyak pihak, ITAGI terus berupaya melakukan edukasi dan sosialisasi pentingnya vaksin dan imunisasi dasar bagi anak-anak. Kelompok penentang dari kalangan relijius didekati melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI), sedangkan di kalangan dokter pendekatannya dilakukan melalui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) atau Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

“Kita tidak boleh berhenti untuk memberikan edukasi dan motivasi tentang apa pentingnya vaksin. Bahwa program ini bisa menyelamatkan anak bangsa dan menciptakan generasi yang sehat,” lanjut Dr Julitasari.

Dicontohkan oleh Dr Julitasari, salah satu outbreak yang dipicu oleh kurangnya kesadaran untuk imunisasi adalah wabah difteri yang terjadi di Madura dan Jawa Timur. Dalam kaitannya dengan peningkatan kesadaran, ITAGI sudah merangkul tokoh-tokoh agama untuk membantu menyosialisasikan perlunya vaksin dan imunisasi.

Gerakan anti vaksin sendiri kebanyakan didasari keyakinan bahwa tubuh manusia secara alami sudah dibekali sisitem kekebalan tubuh. Beberapa kalangan anti vaksin yang lebih ekstrem bahkan menganggap, program vaksinasi dan imunisasi merupakan konspirasi negara barat untuk melemahkan atau bahkan menghancurkan negara berkembang.

“Vaksinasi itu intinya adalah, kita memberi antigen dalam bentuk vaksin agar anak membentuk antibodi sehingga tidak mudah tertular penyakit tertentu,” tegas Dr Julitasari.

sumber : http://health.detik.com/read/2012/06/27/144444/1952227/763/itagi-kampanye-negatif-antivaksin-tidak-boleh-dibiarkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s